Tak Ingin Terjebak Siklus Lama, Balikpapan Rancang Strategi Ketahanan Air Berkelas Dunia
POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN : Hujan deras kerap membawa genangan. Musim kemarau menghadirkan kecemasan akan air bersih. Siklus klasik inilah yang selama bertahun-tahun membayangi kehidupan warga Balikpapan.
Kini, Pemerintah Kota
Balikpapan bersama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mulai menapaki
langkah baru. Mereka menggandeng Singapore Water Center serta World Bank untuk
menyusun Peta Jalan Praktis Ketahanan Air—sebuah strategi jangka panjang guna
membangun sistem air yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Direktur Utama PTMB,
Yudhi Saharuddin, mengungkapkan bahwa tim gabungan dari Singapura dan Bank
Dunia telah turun langsung ke Balikpapan pada akhir Januari 2026.
“Mereka tidak hanya
melihat persoalan air bersih, tapi juga drainase, sanitasi, hingga pengendalian
banjir. Semua dikaji sebagai satu kesatuan sistem,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Menurut Yudhi,
tantangan utama Balikpapan bukan sekadar ketersediaan air baku, melainkan
bagaimana seluruh siklus air dikelola secara terintegrasi—dari air hujan, air
limbah, hingga distribusi air bersih.
“Kita ingin membangun
sistem yang adaptif terhadap perubahan iklim. Air hujan tidak lagi sekadar
dibuang, tapi dimanfaatkan. Risiko banjir ditekan, sementara pasokan air tetap
terjaga,” tegasnya.
Pendekatan ini
menempatkan ketahanan air sebagai fondasi pembangunan kota, bukan hanya proyek
sektoral.
Sebagai rujukan
utama, Balikpapan menoleh ke Singapura—negara yang dikenal minim sumber air
alami, namun mampu mencapai kemandirian air melalui pemanenan air hujan dan
daur ulang.
“Singapura tidak
punya sumber air baku besar, tapi mereka bisa mandiri. Itu yang sedang kita
pelajari untuk diterapkan sesuai karakter Balikpapan,” jelas Yudhi.
Adaptasi praktik
global ini diharapkan melahirkan solusi lokal yang realistis, bukan sekadar
meniru mentah-mentah.
Yudhi menegaskan,
penyusunan peta jalan ini bukan sekadar agenda simbolik bertepatan dengan HUT
ke-129 Kota Balikpapan. Lebih dari itu, dokumen tersebut disiapkan sebagai
pedoman strategis menghadapi pertumbuhan kota—termasuk perannya sebagai daerah
penyangga Ibu Kota Nusantara.
“Ini langkah jangka
panjang agar Balikpapan siap dengan tantangan urbanisasi dan kebutuhan air yang
terus meningkat,” katanya.
Saat ini, dokumen
peta jalan masih berada pada tahap awal. Ke depan, berbagai perangkat daerah
akan dilibatkan sebelum rekomendasi teknisnya diterjemahkan menjadi kebijakan
konkret.
Targetnya jelas:
beberapa tahun mendatang, masyarakat diharapkan bisa merasakan layanan air yang
lebih stabil, sekaligus risiko banjir yang semakin berkurang. (mid)